Keputusan itu dikeluarkan JK usai melakukan rapat DPP di kediamannya, 16 Februari kemarin. Untuk mendapatkan 7 figur itupun tidak mudah. Parpol berlambang beringin ini melakukan seleksi berjenjang. "Ketua umum sudah setuju karena jauh hari sebelum dia berangkat memang sudah ada amanat penjaringan capres di Rapimnas," kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono.
Kebijakan itu termuat dalam surat edaran yang dikeluarkan DPP yang ditujukan kepada DPD tingkat provinsi serta kabupaten/kota. Isinya, para pengurus diminta memberi sejumlah nama. Masukan dari kabupaten/kota nantinya akan disaring oleh DPD Provinsi. Dan hasilnya kemudian dikirim ke DPP untuk dijaring 7 nama. Tokoh-tokoh inilah yang kemudian akan disurvei Golkar.
"Mekanisme lanjutan akan lebih banyak kepada hasil survei, jadi bukan lagi mekanisme interaksi dengan daerah-daerah," urai Agung.
Menurut analis politik Christianto Wibisono, ketegangan internal dalam Golkar nampak ketika dari Washington DC, Jusuf Kalla mengultimatum Sultan segera menentukan pilihan lewat Golkar atau lewat partai lain. Gayung pun bersambut. "Sebagian elit Golkar balik mengultimatum JK agar segera memutuskan jadi capres atau tidak berani dan harus diputuskan 15 Februari 2009," ujarnya.
Untuk membangun soliditas internal, Partai Golkar meluncurkan iklan politik dengan tema kembali melanjutkan pembangunan. Materinya pun lumayan mencengangkan. Hampir semua tokoh-tokoh terkenal Golkar, yang sering digadang-gadang sebagai calon presiden, muncul dalam iklan yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi swasta itu.
Iklan dibuka dengan gambar mantan Ketua Umum Golkar, Akbar Tandjung. Lalu berkelebat gambar Wakil Ketua Umum Golkar, Agung Laksono. Kemudian muncul anggota Dewan Penasihat Golkar, Sultan Hamengku Buwono X. Ada dua foto Sri Sultan yang diambil, salah satunya saat penguasa Yogyakarta itu mengenakan jaket kuning Golkar. Setelah Sultan, muncul Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar, Surya Paloh. Barulah setelah itu, Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla.
Gambar Kalla kemudian ditampilkan sedang menumbuk padi. Kemudian muncul di belakang Kalla, sejumlah kader-kader Golkar seperti Ferry Mursyidan Baldan dan Syamsul Maarif. Dalam iklan terbaru ini, Kalla mengajak persatuan dan kesatuan Golkar dijaga.
Iklan ini tentu bukan hanya sekadar pariwara politik biasa. Iklan ini seakan memberi sebuah isyarat bahwa partai bernomor 23 itu sedang mengkonsolidasikan kekuatannya. Tidak hanya sekadar faksi JK atau DPP semata melainkan semua kelompok di Golkar bersatu untuk memenangkan Pemilu legislatif.
Iming-imingnya jelas. Jika Golkar menjadi juara dalam pemilu maka peluang mengajukan capres menjadi terbuka lebar. Artinya para tokoh Golkar yang sibuk bermanuver kanan kiri kini memiliki kans yang sama dengan JK untuk menjadi kandidat RI-1 yang diusung Beringin.
Langkah JK membuka pintu pencapresan dari Golkar ini bak angin segar yang membawa perubahan. Tidak hanya bagi rival JK di kalangan Golkar semata tetapi juga konstelasi perpolitikan Golkar di kancah nasional. Dan sikap ini sekaligus juga menjadi warning untuk SBY dan Partai Demokrat. Tidak ada kawan yang kekal dalam politik.[Habis/L4]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar